Langit sore dengan awan putih menutupi.

Langit sore dengan awan putih menutupi.

Ujung rokok terbakar, membara. Paru-parumu dan orang di dekatmu juga.

Ujung rokok terbakar, membara. Paru-parumu dan orang di dekatmu juga.

Bukan Balasan

Tak mampu aku bermusyawarah dengan ketulusan rasa yang memuai, menghinggapi cermin retakku.

Ada benteng yang teramat kuat di dalamnya terikat janji suci, yang tak mungkin aku mencakarnya hanya karena seikat gumamku yang mendemam dan menggigil sehebat cinta.

Ada tangis yang selalu bisa aku mengerti di perasaanmu, namun tak pernah bisa aku pahami tawamu yang menggelayut di akar hatiku yang tandus.

Aku cermin yang retak, yang tak mungkin kamu mengumpulkan puing-puing bayanganmu menjadi sebuah istana yang megah.

Jika aku adalah tanya, tak perlu menjawabnya dengan sebuah perahu, cukup satu kenang aku di dalam sedihmu, sebab tawa akan lenyap ditelan waktu.

Hujan. Aku terjebak tak bisa pulang.

Hujan. Aku terjebak tak bisa pulang.

Siapa Dia?

Terbangun di tengah malam dan melihat lelaki yang kusayangi masih terlelap di sampingku. Aku tersenyum. Dia masih terpejam, seperti bayi tanpa dosa. Aku merasa begitu bahagia menjadi istrinya.

Sepertinya dia tidur dengan nikmat sekali. Mimpi apa sih? Samakah dengan mimpiku? Aku masih enggan beranjak tidur kembali. Dia adalah anugerah terindah buatku.

Kusentuh lembut rambutnya, keningnya, hidungnya, bibirnya… Dia menggeliat. Ups! Aku menghentikannya. Aku takut dia malah terbangun.

“Sayang, kamu ngapain? Ayo tidur…” katanya lirih dengan mata masih terpejam.

“Aku mencintaimu.” Bisikku di telinganya.

Dia menarik tubuhku dan memelukku erat.

“Aku juga mencintaimu, Marina sayang…” katanya, masih dengan mata terpejam. “Sekarang tidur lagi yuk.”

Aku terdiam kaku dalam pelukannya. Marina? Namaku Monica. Lalu siapa Marina?

Ketika ingin maju ke depan, sesekali kita butuh melihat ke belakang. Sesekali bukan terus-menerus. Karena kita berjalan maju bukan mundur.

Ketika ingin maju ke depan, sesekali kita butuh melihat ke belakang. Sesekali bukan terus-menerus. Karena kita berjalan maju bukan mundur.

Jika Saja

Jika kamu selama ini sibuk bertanya apakah aku bahagia? 

Ingatlah bagaimana rentang yang dibentangkan pernah seakan menenggelamkan aku di dalam kotornya limbah. Sesak. Tak mampu bernafas. Namun kini ku tahu, aku lupa hakikat manusia. Bahwa Ia menciptakan aku untuk melengkapi, bukan untuk pengganti nyawanya.

Jika kamu selama ini sibuk berpikir apakah aku bahagia?

Ingatlah ribuan detik yang terlewatkan tanpa kehadiran yang nyata. Namun, ketika nyata tidak lagi bermakna. Rasa abstrak mendominasi hati. Lihatlah, debaran itu nyata dan tetap sama. 

Jika saja kamu sibuk berharap aku bahagia?

Harapan itu tergores kental di atas pasir yang kau kumpulkan dulu. Merapat dan tak bersekat. Perlahan membukit dan membentuk sebuah atap. Dimana hanya ada kita dan cerita yang telah tercipta.

Jika saja kamu terpikir untuk pergi demi tawaku?

Ingat betapa keras genggamanku menahanmu. Betapa aku mati tanpa hadirmu, dan banyaknya peluh yang hadir menyusuri tiap tangga dengan kita di awan yang berbeda?

Namun jika semua yang telah terjadi di luar pertimbangan logikamu, jangan berlogika! Tanpa itu pun kamu membuatku terlalu bahagia.

Langit senja

Langit senja

Katon Bagaskara - Cinta Selembut Awan (by Katon Bagaskara)

Cinta selembut awan masih tersimpan di hati

Pesonamu menawan ku dilanda sepi

Mengapa hanya padamu tercurah seluruh rasa

Hadir di setiap nafasku, bayangmu menyapa

Meskipun ku tahu dirimu kini tiada lagi sendiri

Namun ku tak rela melepas segala mimpi

Oh mengapa hanya dirimu yang mampu mengisi hampa sanubari

Kini ku mengerti anganku hanya lamunan

Kisah kita berakhir menjadi kenangan

«back
Do I Really Deserve You?
Design by Athenability
Powered by Tumblr